Pangeran Senopati Mangkubumi I atau Adipati Raden Banyak Belanak di Pasirluhur yang menjabat Adipati wanita 8000 (delapan ribu) domas, dari sebelah timur berbatas tidang Mengangkang/gunung Sindoro Sumbing, dan batas sebelah bara adalah udug-udug (tiang) Krawang.
Tanah timur Krawang sampai Sindoro Sumbing semua tunduk belas kasih kepada Sang Adipati Pangeran Sinopati Mangkubumi yang menjabat Adipati Pasirluhur kira-kira tahun 1469-1522.
Beliau mempunyai satu putra yaitu Raden Tole. Di Kesultanan Demak Raden Patah atau Sultan Alam Akbar wafat pada tahun 1518 dan digantikan oleh Dipati Unus tahun1518-1521 (wafat muda).
Kesultanan Demak di jabat oleh pangeran Trenggono pada tahun 1512-1546.
Di Kadipaten Pasirluhur Adipati Pangeran Senopati mengalami pergantian jabatan pada tahun 1522. Sang Putra Raden Tole menggantikan kedudukan Adipati di Pasirluhur mendapat 8000 domas tahun 1522-1527.
Adapun yang menjadi Patih yang diinginkan tetap dipati lama yaitu sang paman Patih Wirakencana.
Sesudah Raden Tole menduduki Adipati di Pasirluhur murtad dari agama Islam, kembali menganut agama Budha. Ayahanda dan Pamannya sangat marah.
Pangeran Senopati sampai terkena sakit melihat sang putra, dari pendidikan dan bimbingan ayahandanya tidak ada yang dipakai. Sakitnya Adipati semakin lama semakin menjadi-jadi namun belum sampai wafat.
Dipati Raden Tole segera memerintahkan untuk dimandikan dan di makamkan di pemakaman (tanah pasir yaitu gedung I).
Kanjeng Sultan Trenggono mendengar bahwa Adipati Pasirluhur Pangeran Senopati Mangkubumi sedang sakit, segera mengutus empat sahabat supaya melayad ke Pasirluhur. Apabila masih hidup tungguilah, apabila sudah wafat tegakkanlah (ajekna). Karena Sang Senopati adalah kekasih Kanjeng sultan dulu. Empat utusan bersedia terhadap perintah.
Setelah empat utusan sampai di Pasirluhur bertemu dengan Adipati Tole, utusan Demak diijinkan berziarah ke makam sang Senopati.
Ketika di makam sedang membaca al-Qur’an (anderes). Ketika baru mendapat satu jus, mendengar suara:
“hai anda empat orang Demak, ketahuilah bahwa kematianku belumlah sempurna, maka galilah kuburanku”
Empat utusan langsung menghadap Dipati Tole melaporkan apa adanya. Kemudian Adipati Tole mengutus pembantu untuk menggali makam sang Senopati.
Sesudah digali yang terlihat hanya kain mori. Dipati Raden Tole menuduh kepada empat utusan telah menghina dan mempermainkan kepada Adipati Pasirluhur.
Dari keempat utusan, yang dua dibunuh dan yang dua dipotong kupingnya, kemudian terbirit-birit kembali ke Demak agar melaporkan kepda Kanjeng Sultan bahwa Adipati Raden Tole tidak akan patuh dan tidak akan masuk Islam. Akan kembali lagi kepada agama Budha.
Sampai di Kesultanan Demak, kedua utusan langsung melapor kepada Sultan Trenggono. Sultan Trenggono menyuruh yayah sinipi, kemudian utusan rekyana patih agar menggempur ke Pasirluhur membawa pasukan secukupnya. Orang-orang pasir iridana semuanya. Ki Patih lewat pantai utara kemudian ke Brebes.
Adipati Brebes mengutus duta untuk mengantarkan surat tantangan kepada Adipati Tole di Kadipaten Pasirluhur.
Utusan dari Brebes sampai di Kadipaten Pasirluhur kebetulan kosong. Adipati Tole sedang acangkrami kasukan bedayan di Negera Daha. Sedang menepati nadzarnya. Kalau Sang Ayah telah wafat, akasukan sawadyabala mantri bedayan laran-laran agung. Karena Kadipaten sepi, utusan dari Brebes memberikan surat tantangan kepada Patih Worakencana.
Keinginan Ki Patih, suratnya langsung disampaikan saja kepada Raden Tole di Negara Daha.
Utusan sampai di Daha, Adipati Tole sedang senang-senang makan dan minum.
Surat sudah diterima dan sudah dipahami isinya, Adipati Tole segera berangkat bersama pasukannya ke Kota, dan sudah dibentengi semua pasukan.
Secepatnya semua pasukan dari Demak berbaris mengepung kota Pasirluhur. Sampai satu bulan lamanya. Bendungan Situ Sekar di bongkar oleh pasukan Demak, air banjir masuk ke kota dan sampai jambannya asat.
Ki Tambak yang menjaga situ sekar melihat bahwa airnya asat, kemudian diselidiki penyebabnya. Kaget melihat salah satu pasukan demak membongkar bendungan situsekar kemudian diperangi dengan berani sampai terjadi perkelahian ajogol udreg-udregan.
Ki Tambak kawon okolipun kemudian langsung melapor kepada tuannya bahwa bendungan situsekar telah di bongkar oleh pasukan Demak supaya semua rakyat di dalam kota tidak bisa minum.
Raden Patih Wirakencana merasa prihatin berdoa kepada Allah SWT yang memberi kehidupan dengan shalat satu raka’at kemudian menancapkan kerisnya, keluar air jernih sepancuran.
Senang rasa hati, permintaannya diterima bisa untuk minum orang-orang senegara, Raden Tole sangat bahagia karena Sang Paman mempunyai kesaktian bisa mengeluarkan air.
Lama-lama air dipakai untuk mencuci ikan babi dan asat seketika itu. Sang Patih heran, kemudian menemui Adipati Tole dan menyarankan keponakannya agar mau tunduk mengabdi kepada Demak dan memeluk agama Islam. Pasirluhur tidak akan kuat melawan Kesultanan Demak. Adipati Tole berkata kepada paman patih dengan marah-marah.
Karena malu, Paman Wirakencana kemudian mengundurkan diri keluar dari dalam istana.
Patih wirakencana memberitahukan kepada orang demak, bahwa ia tidak akan ikut campur dengan tingkahlaku Adipati Tole karena telah dimarahi oleh Raden Tole sampai merasa malu sekali dan sakit hati.
Adipati Brebes dan Patih Demak menemui Patih Wirakencana karena diutus Sultan Demak agar melumpuhkan Kadipaten Pasirluhur dan dipegang oleh Raden Tole.
Patih Wirakencana hanya mempersilahkan karena sudah merasa marah dihatinya karena semua sarannya tidak dihiraukan oleh Raden Tole.
Pasirluhur dikepung kemudian rame-rame pasukan Pasirluhur melawan pasukan dari Demak. Pasukan Pasurluhur dapat dilumpuhkan.
Ki Sombro berkata melaporkan bahwa pasukan Pasirluhur telah dilumpuhkan. Adipati Tole bersama anak istrinya melarikan diri ke arah selatan kemudian ke timur.
Patih Wirakencana diutus oleh Patih Demak agar memburu sang keponakan, Raden Tole. Raden Tole meneruskan perjalananya ke arah timur selatan sampai di Petanahan Kebumen kemudian ke Desa Bocor.
Patih wirakencana kembali ke Pasirluhur bersama pasukannya masuk ke kota Pasirluhur. Semua pasukan Pasirluhur pasrah sepenuhnya kepada Patih Wirakencana bagaimanapun kondisi Kadipaten Pasirluhur selanjutnya.
Patih Wirakencana menjabat sebagai Adipati di Kadipaten Pasirluhur dengan nama Pangeran Senopati Mangkubumi II melanjutkan Adipati Banyak Belanak sebagai Pangeran Senopati Mangkubumi I. Kurng lebih tahun 1527.
Patih demak kemudian melaporkan kepada sultan Trenggono, dan sangat bergembira mendengar kabar tersebut.
Kira-kira tahun 1528-an Pangeran Senopati Mangkubumi memindahkan pusat pemerintahan Pasirluhur ke timur utara arahnya dan membuka kota baru yang dinamakan Pasirbatang.
Pangeran Senopati Mangkubumi II menjabat Adipati kurang lebih tahun 1527-1568. Seluruh orang Pasirbatang tan ana kang suwala, semua mengasihi Sang Pangeran Senopati Mangkubumi II. Tenang tentram pawongan di Pasirbatang
ini cerita singkat pasir luhur masuknya islam...semoga bermanfaaat.... R.Wimpi Hamiaji

Tidak ada komentar: