PANGERAN MANGKUBUMI I / BANYAK BLANAK
Sejarah gelar Pangeran Senopati Mangkubumi di Kadipaten Pasirluhur sangat erat hubungannya dengan sejarah kesultanan Demak. Asal mula gelar Pangeran Senopati Mangkubumi ialah pemberian Kanjeng Sultan Demak kepada Raden Banyak Belanak di Kadipaten Pasirluhur pada waktu setelah bersedia memeluk agama Islam, kemudian ditugaskan oleh Sultan Demak agar membantu menyebarkan ajaran agama suci dan mendapatkan hasil yang baik.
Para Adipati di sebelah barat dan timur Kadipaten Pasir Luhur semua tunduk beserta balatentaranya kepada Sang Adipati Raden Banyak Belanak. Semua bersedia memeluk agama Islam, menjalankan syariat Kanjeng Nabi.
Supaya mudah dikenal bahwa gelar Senopati Mangkubumi adalah senopatinya agama Islam, maka tidak aneh kalau penulis memaparkan riwayat Pasirluhur bercampur dengan sejarah Kesultanan Demak, untuk membedah kejadian cerita gelar Senopati Mangkubumi di Kadipaten Pasir Luhur. Gelar tersebut disandang oleh:
1. Adipati Raden Banyak Belanak
2. Raden Banyak Geleh/ Patih Wirakencana yang selanjutnya menjadi Adipati Pasirluhur.
KERAJAAN ISLAM DI TANAH JAWA
1. Kesultanan Demak
Dikisahkan pada waktu itu, Demak merupakan daerah termasuk kerajaan Majapahit dan yang menjadi bupati adalah Raden Patah. tahun 1470-an di Keraton Majapahit ada keributan perebutan kekuasaan. Kemudian Demak memisahkan diri dari kekuasaan Majapahit.
Dengan mendapatkan dukungan para wali, Raden Patah mendirikan kerajaan Islam yang pertama di tanah jawa dengan nama Kesultanan Demak.
Raden Patah menjabat kesultanan Demak tahun 1470-1518 dengan gelar:
2. Sultan Alam Akbar
Demak menjadi pusat kegiatan para wali dalam menyebarkan agama Islam.
Sultan Alam Akbar dibantu oleh para wali menyebarkan ajaran agama Islam, tidak hanya di tanah jawa tapi sampai ke luar jawa. Seperti di Maluku yang diserahkan kepada sunan Giri, di Kalimantan diserahkan kepada Penghulu Kesultanan Demak yang bernama Tunggan Parangan.
Kurang lebih tahun 1472 Kanjeng Sultan Demak memanggil Patih Hedin dan Patih Husen dan salah satu yang bernama Pangeran Makdum.
Bahwa yang dibahas, karena terdengar bahwa di Negara Pasirluhur masih mengantu agama Budha, Kanjeng Sultan Alam Akbar ingin mengutus kedua patih tersebut bersama Pangeran Makdum Wali agar mengIslamkan Negara Pasirluhur.
Titah Kanjeng Sultan selanjutnya kepada Pangeran Makdum Wali, apabila Seumpama Adipati Pasirluhur tidak mau tunduk memeluk agama Islam, utusan tersebut diberi wewenang untuk mengambil jalan perang menghancurkan Kadipaten Pasirluhur.
Patih Hedin dan Patih Husen diizinkan untuk membawa balatentara secukupnya.
Para utusan bersedia dan patuh kemudian berangkat menujur Pasirluhur.
PANGERAN MAKDUM WALI
Sudah dikatakan didepan bawha Pangeran Makdum Wali adalah salah satu wali yang diutus Sultan Demak mengIslamkan Negara Pasirluhur. Yang ditemani oleh Patih Hedin dan Patih Husen. Tidak disangka perjalanannya sudah sampai ke negara Pasirluhur. Pangeran Makdum Wali dan bala tentara dari Demak yang ikut menetap di luar kota Pasirluhur.
Di Padepokan Pangeran Makdum Wali berbincang-bincang dengan Patih Hedin dan Patih Husen membahas bagaimana rencana selanjutnya. Pangeran Makdum Wali mengutus kedua patih tersebut untuk memasuki Kadipaten Pasirluhur mengantarkan surat kepada Sang Adipati Raden Banyak Belanak.
Isi surat tersebut ialah agar Adipati Pasirluhur bersedia Pindah keyakinan dari agama Budha dan masuk agama Islam. Apakah akan nurut apa menentang? Jikalau bersedia nurut memeluk agama Islam agar secepatnya datang ke Padepokan menemui Pangeran Makdum Wali. Jikalau menentang tidak mau masuk agama Islam, terpaksa akan dilayani peperangan antara balatentara kesultanan Demak dan Balatentara Kadipaten Pasirluhur.
KADIPATEN PASIRLUHUR
Pada waktu itu, yang menjawab Adipati di Kadipaten Pasirluhur bernama Raden Banyak Belanak putranya Adipati Raden Banyak Kesumba.
Raden Banyak Kesumba memiliki dua orang anak:
1. Raden Banyak Belanak
2. Raden Banyak Geleh
Sesudah wafatnya Adipati Raden Banyak Kesumba, yang menggantikan jabatan tersebut di Kadipaten Pasirluhur ialah Raden Banyak Belanak. Sedangkan adiknya, Raden Banyak Geleh menjabat sebagai patih Wirakencana.
Adipati Raden Banyak Belanak menjabat di Kadipaten Pasirluhur kira-kira 1469-1522 yang ditemani oleh adiknya, Patih Wirakencana.
Sang Adipati mengadakan pembahasan dengan adiknya dan punggawa kadipaten,karna dapat mimpi kalo nati akan ada orang yang akan menyebarkan agama suci. bahwa seiring berjalannya waktu, sudah saatnya agama budha hancur dan berganti agama mulia yaitu agama Islam.
Hilanglah orang menyebut “dewa batara” dan yang disebut ialah “Allah, Adam dan Rasulullah’. Ki Patih dan Punggawa hanya bisa patuh.
Sedang, sementara pada waktu ngobrol terganggu oleh kedatangan Makdum Wali mengantarkan surat kepada Sang Adipati Raden Banyak Belanak. Isi surat tersebut sama halnya yang baru saja di utarakan oleh Sang Adipati kepada Patih Wirakencana dan para punggawa Kadipaten.
Utusan tersebut dieprsilahkan untuk segera kembali ke padepokan dan berkata kepada Pangeran Makdum Wali bahwa Adipati Banyak Belanak tidak akan menentang, tapi akan patuh memeluk agama Islam.
Sepulangnya utusan tersebut, Adipati Raden Banyak Belanak bersama Patih Wirakencana dan para pembesar bersama-sama berangkat menuju ke padepokan menemui Pangeran Makdum Wali.
Bersambung ...PERTEMUAN PANGERAN MAKDUM WALI DENGAN ADIPATI BANYAK BELANAK

Tidak ada komentar: