Pangeran Makdum Wali yang sudah lumayan lama berada di tanah Pasirluhur menyebarkan ajaran agama Islam mendapatkan ijin untuk membangun padepokan yang diberi nama padepokan Dekah Ambawang Gula Gumantung yang berfungsi sebagai masjid mengajarkan agama Islam.(masjid itu sampai sekrang masih ada)
Pangeran Makdum Wali sudah berhasil dalam mengajarkan agama Islam di Kadipaten pasirluhur, luar kota, pedesaan dan pegunungan.
Semua rakyat Pasirluhur mengemban tuntunan agama Islam menjalani syari’at kanjeng Rasulullah. Semua itu, tidak lain adalah hasil kerjasama yang baik dengan para pembesar Kadipaten Pasirluhur.
Oleh karena itu, disana Pangeran Makdum Wali pernah mempunyai nadzar/janji kepada Patih Wirakencaan bahwa besok kalau sudah wafat akan seliang lahat antara Pangeran Makdum Wali bersama Raden Banyak Geleh/Patih Wirakencana.
Hal itu juga dijelaskan dalam naskah tembang pucung yang dikutip dari buku induk babad Pasirluhur, yang berupa sekar macapat yang ditulis dengan huruf jawa, tembang pucung tersebut adalah:
“Ya pangeran, Makdum Wali dukwau, darbe perjanjian mring sira rahada patih, Banyak Geleh anenggih wirakencana.”
“Lamun temen-temen angguru maring sun, mbesuk yen palastra, apan uwis pninanti, apan bareng saluwang ingsung lan sira.”
Kemudian dijawab oleh Raden Banyak Geleh, berikut bunyi tembangnya:
“Raden Banyak Geleh wau aturipun, inggih mboten lepat, mboten kilap ing tiyas mami, pan sinigeg ing pasir nagara.”
Makanya tidak aneh perkataan wali tersebut pada akhirnya menjadi kenyataan makamnya Pangeran Makdum Wali dengan Raden Banyak Geleh/Patih Wirakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi II) menjadi satu atap di Istana Pasir.
Ki Adipati Pasirluhur Raden Banyak Belanak sedang ngobrol bersama Pangeran Makdum Wali dan Patih Wirakencana terhenti oleh kedatangan utusan dari Kesultanan Demak yang membawa amanat berupa surat kepada Pangeran Makdum Wali dan Raden Banyak Belanak agar mengislamkan para Adipati di sebelah barat Kadipaten Pasirluhur.
Keduanya bersedia terhadap perintah tersebut.
Surat balasan dan kedua utusan supaya segera kembali ke Demak.
Sepulangnya kedua utusan tersebut, Pangeran Makdum Wali dan Adipati Pasirluhur siap segera menuju ke Tanah Pariyangan.
Dan yang diperintkan untuk menempati Padepokan Pangeran Makdum Wali di Dekah Ambawang Gula Gumantung adalah Pangeran Prabuhara.
Sesudah besarnya para prajurit Pasirluhur telah siap, Adipati Raden Banyak Belanak dan Pangeran Makdum Wali terus bersegera berangkat ke daerah Pariyangan. Kadya sela blekiti lapmahing bala. Sela watu, blekiti semut. Seperti semut yang berbaris di atas batu, tidak diceritakan lamanya perjalanan.

Tidak ada komentar: